09 February 2009

ALAT TANGKAP IKAN


Penangkapan ikan merupakan salah satu profesi yang telah lama dilakukan oleh manusia. Menurut sejarah sekitar 100.000 tahun yang lalu manusia neanderthal (neanderthal man ) telah melakukan kegiatan penangkapan (Sahrhange and Lundbeck, 1990) dengan menggunakan tangan kemudian profesi ini berkembang terus secara perlahan-lahan dengan menggunakan berbagai alat yang masih sangat tradisional yang terbuat dari berbagai jenis bahan seperti batu, kayu, tulang dan tanduk.


Alat tangkap dan teknik penangkapn ikan yang digunakan nelayan di Indonesia umumnya masih bersifat tradisional. Menurut Ayodhya (1981) pendapat ini ada benarnya, tetapi juga ada ketidakbenarannya. Jika ditinjau dari segi prinsip teknik penangkapan yang digunakan oleh nelayan di tanah air akan terlihat bahwa telah banyak pemanfaatan tingkah laku ikan ( behaviour ) untuk tujuan penangkapan ikan yang telah digunakan.


Alat tangkap dan teknik penangkapan yang sering kita jumpai pada masyarakat nelayan telah memiliki klasifikasi tertentu yang telah diklasifikasikan oleh para ahli. Sebagai contoh : Klasifikasi teknik penangkapan ikan menurut Kamkichi Kishinouye (1902) dalam Ayodhya (1981) antara lain memaksa ikan dengan suatu kecepatan untuk memasuki daerah alat penangkapan, menghadang arah renang, mengajak atau menggiring, mengusahakan masuk ke alat penangkap dengan mudah tetapi dengan mempersulit keluar atau mengurung, menggarit atau menggaruk, menjerat, terkait, membelit dan menjepit


Klasifikasi teknik penangkapan ikan menurut Statistik Perikanan Indonesia (1975) yaitu :

  • Trawl
  • Pukat kantong, misalnya payang, dogol dan pukat pantai
  • Pukat
  • Jaring insang, misalnya jaring insang hanyut, jaring klitik dan sebagainya
  • Jaring angkat, misalnya bagan
  • Pancing, misalnya rawai tuna, pole and line
  • Perangkap, misalnya sero, jermal dan bubu
  • Alat pengumpul kerang dan rumput laut
  • Muroami
  • Alat tangkap lainnya misalnya tombak.

Salah satu sifat khas produk perikanan adalah mudah rusak (perishable). Sifat ini menuntut tindakan penanganan secara spesifik dan cermat, baik dalam proses produksi (penangkapan dan pendaratan) maupun selama pemasaran, guna menghindari kemunduran mutu ikan,karena itu penyelenggara pelelangan ikan di Tempat Pelelangan Ikan perlu dilaksanakan dengan cepat, lancar, dan dengan pengelolaan administrasi yang baik, agar mutu ikan bisa dipertahankan dan dapat memperkecil biaya pemasaran bagi pedagang ikan (Hanafiah dan Saefudin, 1983).




No comments: